Pro Kontra Tulisan Dahlan Iskan

Posted on

Mungkin saya banyak berbeda dengan teman-teman di indomotoblog mengenai tulisan bapak Dahlan Iskan yang berjudul Revolusi Ekonomi Sepeda Motor. Walaupun saya memberikan “like” kepada tulisan tersebut bukan berarti saya plin-plan, namun pada tulisan tersebut memang berisi kejadian nyata yang terjadi di tanah air yang kita cintai ini.

Ok, kita petik beberapa tulisan beliau:

Dulu golongan ini terjerat dalam siklus pemborosan yang luar biasa. Untuk ke kantor mereka naik kendaraan umum yang bahkan harus dua kali ganti. Atau hanya sekali naik kendaraan umum tapi harus menyambungnya dengan becak. Biaya untuk angkutan umum itu bisa mencapai 80% dari gaji mereka. Untuk apa bekerja kalau 80% gaji habis untuk kendaraan? Pilihan bagi mereka tidak sebanyak itu. Tidak bekerja berarti tidak punya penghasilan sama sekali. Dengan tetap bekerja, setidaknya eksistensi dan kehormatan sebagai manusia tetap terjaga.

Benar apa yang disampaikan beliau, “buat apa capek-capek kerja jika 80% dari gaji yang kita terima habis untuk ongkos perjalanan rumah-kantor PP?”. Solusi yang tepat saat belum adanya transportasi umum/publik/masal yang nyaman, aman dan murah di tengah-tengah kita.

Kini, dengan kemudahan system keuangan, prosentase biaya transportasi itu bisa membaik. Dengan system kredit sepeda motor yang kian ringan tidak perlu lagi ada uang di depan yang terlalu besar. Memang semasa cicilan belum lunas prosentase pengeluarannya tetap tinggi, tapi turun drastis setelah masa cicilan sepeda motornya selesai.

Semakin bermudah-mudahan dalam memiliki kendaraan bermotor, bahkan anak SMA dengan uang saku yang cukup banyak bisa saja kredit motor. Lalu…apakah kualitas mereka terhadap peraturan lalu lintas akan terupgrade secara otomatis? ataukah akan semakin banyak penyimpangan dan ke-sruntulan di jalan raya?

Karena itu segala macam perencanaan pembangunan sudah harus mengakomodasikan kehadiran sepeda motor secara masal. Pembangunan jalan tol di Bali, misalnya, secara sengaja sudah mengakomodasikan sepeda motor. Tidak bisa lagi sepeda motor diperlakukan seperti kehadiran sepeda di masa lalu. Eksistensi sepeda motor harus diakui sebagai bagian dari kebijaksanaan pembangunan. Pemilik mobil tidak boleh lagi merasa dirinya sebagai pemilik paling sah sebuah jalan raya. Sepeda motor harus diterima sebagai pengguna sah yang hak-haknya sama dengan pemilik mobil.

Tol -> Jalan Bebas Hambatan, kualitas biker yang tidak terupgrade semakin bebas pelintir gas, lalu angka kecelakaan bagaimana?

Tanah siapa yang nantinya akan tergusur? baca ->  pelebaran jalan pembuatan tol baru solusi kemacetan.

Silakan dikompare tulisan Dahlan Iskan dengan tulisan eyang Edo Rusyanto ->saat dahlan iskan bicara soal motor

9 thoughts on “Pro Kontra Tulisan Dahlan Iskan

    #99 bro said:
    Januari 2, 2012 pukul 3:01 pm

    Pemilik mobil tidak boleh
    lagi merasa dirinya sebagai pemilik paling sah sebuah jalan raya. Sepeda
    motor harus diterima sebagai pengguna
    sah yang hak-haknya sama dengan
    pemilik mobil.

    _____________________________:setujubangettttttttttttttttttttttttttt

    lha bagi kuli suruh beli mobil mo taruh dimana..?? kontrakan aja 3x3m ..

      Abu Tanisha responded:
      Januari 2, 2012 pukul 3:14 pm

      setuju untuk bagian itu

    Fishbone said:
    Januari 2, 2012 pukul 6:40 pm

    Pemilik mobil tidak boleh
    lagi merasa dirinya sebagai pemilik paling sah sebuah jalan raya. Sepeda
    motor harus diterima sebagai pengguna
    sah yang hak-haknya sama dengan
    pemilik mobil.

    pernyataan Dahlan Iskan ini menggeneralisir pemilik mobil. bukannya yang sering ugal-ugalan di jalan raya itu pemilik motor? saya sendiri cuma punya motor. tapi kenyataannya memang begitu kok.😛

    extraordinaryperson said:
    Januari 2, 2012 pukul 6:53 pm
    Maskur said:
    Januari 3, 2012 pukul 7:11 am

    Aku belum baca2

    yoyokal said:
    Januari 3, 2012 pukul 9:50 am

    Bro, kalau memaknai tulisan harus ditelaah secara menyeluruh dan jangan mengambil satu bagian kalimat saja dan dianggap sebagai hal yang dimaksud dalam artikel.

    Menurut saya dari tulisan itu Pak DI menyimpulkan fakta bahwa sepeda motor adalah sarana unik yang secara nyata membantu masyarakat menengah ke bawah dengan transformasi yang efisien. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa

    “… segala macam perencanaan pembangunan sudah harus mengakomodasikan kehadiran sepeda motor secara masal.”

    Artinya bahwa sepeda motor bagai pisau bersisi dua, seperti halnya internet, ada sisi baik dan buruk. Jadi menurut saya P DI memiliki keinginan agar sepeda motor juga diatur dalam perencanaan pembangunan di segala bidang, misalnya dalam bidang pendidikan, ada kurikulum mulai SD sampai SMA tentang bagaimana berkendara secara aman dan beretika. Pengetatan aturan keselamatan, misalnya produsen ban tidak boleh memproduksi ban cungkring, produsen knalpot tidak boleh memproduksi knalpot bolong, dst. Tentunya sisi penegakan hukum keselamatan motor juga makin ketat karena jumlah motor > jumlah mobil.

    Jadi banyak yang harus dilakukan jika usul Pak DI pada kalimat di atas diterapkan.

      Abu Tanisha responded:
      Januari 3, 2012 pukul 10:48 am

      emang belum menyeluruh ya??? tau darimana?

    TDF said:
    Januari 3, 2012 pukul 10:20 am

    bagai mana kalau transportasi umum di kota besar di kelola secara profesional oleh perusahaan besar. transportasi umum di monopoli pemerintah tidak adalagi juragan angkot (demi kehidupan yang lebih banyak harus mengorbankan sedikit yang lain)

    hattabagus said:
    Januari 4, 2012 pukul 4:16 pm

    Jika saya melihat blog beliau, ada “pesan” tersembunyi, yaitu tentang eksklusivitas mobil di jalan raya, cuma pak dahlan tidak mengkritik secara “keras” ini bisa dilihat di paragraf ini :

    Karena itu segala macam perencanaan pembangunan sudah harus mengakomodasikan kehadiran sepeda motor secara masal. Pembangunan jalan tol di Bali, misalnya, secara sengaja sudah mengakomodasikan sepeda motor. Tidak bisa lagi sepeda motor diperlakukan seperti kehadiran sepeda di masa lalu. Eksistensi sepeda motor harus diakui sebagai bagian dari kebijaksanaan pembangunan. Pemilik mobil tidak boleh lagi merasa dirinya sebagai pemilik paling sah sebuah jalan raya. Sepeda motor harus diterima sebagai pengguna sah yang hak-haknya sama dengan pemilik mobil.

    Tidak bisa kita pungkiri, seperti di jakarta, pengguna sepeda motor sering di anak tirikan, dan yang paling sering disalahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s