Dukungan RSA untuk Masyarakat Indonesia

Posted on Updated on

Mungkin beberapa anggota RSA atau OBI telah memuat tulisan ini, tapi apa salahnya jika saya sampaikan lagi. Bahwasanya kasus “Xenia Maut” akan dipantau terus oleh RSA, berikut email yang diposting oleh bro Wisnu dari RSA (poinnya aja ya..).

Afriyani Susanti berikutnya ditulis (AS).

  1. RSA Indonesia memutuskan akan “mengawal” dan mengawasi kasus AS smp dgn tuntas agar kasus ini tdk smp menjadi “peti es” atau bahkan AS dan teman2nya yg semobil menjadi bebas krn campur tangan pihak2 tertentu, dan mempercayakan keputusannya kpd hukum yg berlaku di Indonesia.
  2. Untuk kedepannya, sbg pembelajaran sekaligus shock therapy bagi org2 yg berniat melanggar hukum…RSA berniat mem-push utk adanya perubahan thd UU yg berlaku di Indonesia, agar seseorang yg nantinya diputuskan bersalah, bisa mendapat sanksi berupa “Social Service”, utk menebus kesalahan yg dia perbuat.
  3. RSA sndiri, dan mgkn dibantu jg oleh aparat yg berwenang, akan mencari tau juga thd kasus AS ini contohnya, apakah pihak penyelenggara fasilitas jalan raya juga bisa dikenakan sanksi thd bbrp kejanggalan yg terdapat di TKP kasus AS.

Lengkapnya:

Selasa malam tak seperti biasanya kantin Nyi Ageng Serang yang
terletak di belakang Pasar Festival tampak ramai dengan kawan-kawan
dari berbagai organisasi otomotif baik itu roda empat maupun roda dua.
Di tempat inilah setiap minggunya rekan-rekan dari Road Safety
Association (RSA) melakukan pertemuan. Kali ini antusiasme dari
rekan-rekan organisasi otomotif terlihat, pemicunya tak lain tragedi
Pengendara Maut Daihatsu Xenia B 2479 XI di Jl. M. Ridwan Rais yang
merenggut 9 nyawa pejalan kaki.

Seorang narasumber dari kepolisian dihadirkan. Meskipun sudah lama
memantau aktivitas mailing list RSA dari berbagai negara selama masa
tugasnya yang nomaden, namun baru sekarang pria berpangkat Komisaris
Polisi itu bertatap muka dengan para penggiat keselamatan jalan. Bapak
bertubuh tegap ini memilih untuk menyembunyikan namanya dibalik
inisial KH. Kehadiran beliau tak lain untuk memberikan pencerahan
mengenai serba-serbi proses hukum yang akan diberlakukan kepada AS,
sang pengemudi maut tersebut.

Bro Rio Octaviano membuka sesi diskusi dengan melempar ide awal bahwa
RSA akan “mengawal” proses hukum AS. Hal ini dilakukan untuk banyak
tujuan, selain memberikan informasi akan pentingnya keselamatan
berkendara, juga untuk memastikan bahwa tidak ada intervensi yang
mengganggu proses hukum tersebut. Bro KH turut menimpali bahwa kali
ini kinerja kepolisian dan pengadilan kembali mendapat sorotan publik.
Oleh karena itu proses hukum wajib dijalankan secara transparan.

“Pemberitaan media terlalu menyoroti pihak korban, sementara proses
hukum tersangka minim dibahas. RSA harus memberitakan dari sudut
pandang lain” demikian tegas bro KH. Ia lantas membeberkan fakta bahwa
AS berada di rumah tahanan Narkoba, sementara ketiga rekan AS saat ini
tidak ada yang dipulangkan. Ini berarti proses penyelidikan akan
dikembangkan. Pemberitaan media juga tidak menyebutkan bagaimana
proses penyelidikan polisi yang mengindikasikan bahwa seluruh rekan AS
di mobil Xenia tersebut berada dalam pengaruh narkoba atau minuman
beralkohol.

Lantas, sanksi apa yang adil untuk AS? Bagaimana menentukan vonis
hukumannya? bro KH menjelaskan bahwa putusan masa hukuman dapat
ditentukan secara akumulatif sesuai pasal yang dilanggar,  atau dengan
menerapkan sanksi pilihan dengan memilih sanksi yang terberat dari
pasal-pasal yang ada

Sebuah ide menarik datang dari bro Wisnu mengenai hukuman “kerja
sosial”. Kerja sosial berarti mempertanggung-jawabkan perbuatan
tersangka dengan cara melakukan kegiatan profesi untuk kemudian
sebagian besar dari imbal jasa yang diterima tersangka akan diberikan
kepada pelayanan publik atau keluarga korban (misalnya). Meskipun ini
tidak diatur oleh sistem hukum Indonesia namun usulan
pertanggung-jawaban tersangka dengan bekerja mengganti kerugian
keluarga korban ini dapat diajukan sebagai amandemen atas pasal 311 di
UU no.22 tahun 2009.

Diskusi berlanjut ke arah penyebab laka-lantas berujung maut tersebut.
Selain penyebab tidak fokusnya pengemudi, ternyata infrastruktur turut
berperan dalam terjadinya laka-lantas. Perhatikan saja ketinggian
antara permukaan jalan dengan trotoar tempat para korban tertabrak
oleh pengendara maut tersebut nyaris sama, kemudian bandingkan dengan
diameter ban Xenia yang sekitar 40-an cm.

Akibatnya kendaraan dengan kecepatan tinggi dapat dengan mudah
memasuki trotoar. Padahal Petunjuk Perencanaan Trotoar dari Dirjen
Bina Marga menyebutkan beda ketinggian permukaan jalan dan trotoar
sekurang-kurangnya 15 cm. Penyebabnya tak lain adanya penambahan
lapisan jalan namun tidak disertai penambahan tinggi trotoar.

Sebagai penutup diskusi, rekan-rekan RSA mengharapkan partisipasi
masyarakat untuk dapat memantau dan memastikan proses hukum terhadap
AS berjalan sesuai prosedur tanpa intervensi pihak luar.

Berikut adalah pasal-pasal yang menjerat AS:

UU no.22 tahun 2009

Pasal 281 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor diJalan
yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4
(empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah).”

Pasal 283 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan
secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain ataudipengaruhi oleh
suatu keadaan yang mengakibatkangangguan konsentrasi dalam mengemudi
di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidanadengan
pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak
Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).“

Pasal 284 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan
tidak mengutamakan keselamatan Pejalan Kaki atau pesepeda sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 106 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan
paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima
ratus ribu rupiah).”

Pasal 286 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor beroda
empat atau lebih di Jalan yang tidak memenuhipersyaratan laik jalan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (3)
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda
paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Pasal 287 ayat 5 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di
Jalan yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling
rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf g atau
Pasal 115 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua)
bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Pasal 288 ayat 1 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotordi
Jalan yang tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh
Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
106 ayat (5) huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2
(dua) bulan atau denda palingbanyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu
rupiah).”

Pasal 310 ayat 4 “Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).”

Pasal 311 ayat 5 “Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan
pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling
banyak Rp24.000.000,00(dua puluh empat juta rupiah).

UU no.5 tahun 1997

Pasal 62 “Barangsiapa secara tanpa hak, memiliki dan/atau membawa
psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah)”

Tambahan:

Mungkin ada yang ingin mengingat kisah tahun 1994 tentang metromini mau? berikut saya kutip dari blog http://adhikusumaputra.wordpress.com.

Kisah Penangkapan Sopir Metromini Maut

MENYEBERANGI SUNGAI, TIDUR DI HUTAN …

PENGEJARAN terhadap RS alias Hon (33), sopir metromini maut yang
terjun ke Kali Sunter (Jakarta Utara) dan menewaskan 33 penumpangnya
itu berakhir sudah. Sejak peristiwa terjadi 6 Maret 1994 silam,
petugas Polres Metro Jakarta Utara terus-menerus memburu Hon.
Kapolres Jakut Letkol (Pol) Drs Heru Susanto memerintahkan Lettu
(Pol) Unggul Sedyanto menjadi ketua tim pelacak yang bertugas
menangkap Hon.

Kisah pengejaran Hon ternyata penuh lika-liku, melalui suatu
proses panjang yang tak mudah. Bahkan pada hari penangkapan Jumat 12
Agustus, Lettu (Pol) Unggul bersama anggota timnya harus berjalan
kaki berjam-jam di jalan setapak menembus belantara dengan ancaman
terkaman harimau dan pagutan ular. Mereka juga harus menyeberangi
sungai dengan boat untuk menempuh tempat persembunyian Hon di desa
terpencil di Sumatera Utara.

Sejak kecelakaan itu terjadi, polisi tak pernah tinggal diam.
Polisi mencek ke UGD RSCM Jakpus dan menemukan nama Hon yang nama
aslinya, RS sebagai korban jatuh dari pohon, bukan kecelakaan.
Melihat luka Hon pada lengan kiri, polisi memperkirakan Hon patah
tulang sehingga polisi mencek ke delapan dukun patah tulang di
Jakarta dan Jawa Barat, tapi hasilnya pun nihil.

Tim yang dipimpin Lettu Unggul mulai melacak ke tempat mertua
Hon, tapi rupanya ia tutup mulut rapat-rapat. Polisi juga mendekati
anak laki-laki Hon berusia 10 tahun. Dengan teknik dan taktik
kepolisian, dari sang anak, polisi mendapatkan dua alamat saudara Hon
di Kalideres, Jakarta Barat. Dari sini, polisi memperoleh 9 alamat di
Jakarta, satu di Banyuwangi (Jatim). Tapi Hon tetap tak ditemukan.

Di tengah-tengah sorotan masyarakat, polisi memperoleh informasi
sopir maut sudah tertangkap dan ada di Polsek Tambun (Bekasi) pada 29
Maret. Tapi, Simon Simarmata yang mengaku-ngaku itu rupanya sakit
ingatan. Pada 5 April, Polres Dairi (Sumut) mengumumkan telah
meringkus sopir metromini maut, tapi rupanya kali ini orang yang
mengaku-ngaku itu cuma mau memburu hadiah. Karena sudah telanjur
berada di Sumut, Unggul melanjutkan perjalanan ke kampung halaman Hon
di Siborong-borong lewat jalan darat. Namun keluarga Hon di sana pun
tutup mulut.

Meski gagal lagi, polisi tak putus asa. Kapolda Metro Jaya
Mayjen (Pol) Drs M. Hindarto memerintahkan anggotanya untuk terus
memburu Hon sampai ketemu. Unggul dan timnya mengejar Hon hingga ke
Banyuwangi (5 hari), terminal Solo (3 hari), lereng Gunung Sumbing,
Wonosobo (4 hari), terminal Rajabasa Lampung (8 hari).

Polisi juga mencari Hon ke terminal Pondokkopi Jaktim dan ke Bandung (informasi Hon bekerja sebagai buruh pabrik), tapi hasilnya masih nol. Informasi tentang keberadaan istri Hon juga dicek. Namun setelah dilacak ke
Pasarminggu dan Pondoklabu, polisi tetap tak menemukannya.

Titik terang
Pada 5 Juli, polisi mulai menemukan titik terang. Menurut
informasi, RS ada di Rantauparapat (ibu kota Kabupaten Labuhan Batu),
Sumut, tapi itu belum jelas benar. Pada 25 Juli, polisi melacak Ny.
Ros, istri Hon di Kelurahan Makassar Jaktim, yang ternyata sedang
berjualan di warung milik saudaranya. Dari Ny. Ros, polisi memperoleh
silsilah keluarga secara lengkap, dan ini membantu pelacakan
berikutnya.

Pada 6 Agustus, Lettu Unggul dan Serka M. Drajad berangkat ke
Sumut dengan kapal laut KM Kambuna dari Tanjungpriok (Jakut), dan
tiba di pelabuhan Belawan dua hari kemudian. Setelah melapor ke
Kaditserse Polda Sumut Kolonel (Pol) Drs Suyitno, Lettu Unggul dan
Serka Drajad ditemani dua polisi setempat, Serma M. Nasution dan
Serda Y. Simamora menuju Desa Taloan, Kecamatan Kampung Rakyat,
Kabupaten Labuhan Batu.

Pada 9 Agustus, dengan bantuan Kapolsek Kampung Rakyat, Lettu
(Pol) Rudi Parapat, Unggul bersama tim mencek semua data penduduk di
12 desa di kecamatan itu, terutama pendatang baru. Malam itu Unggul
tidur di rumah dinas Kapolsek setempat.

Esok harinya (10/8), polisi mencek perkebunan sawit milik
saudara Hon di Desa Tolan. Untuk menuju daerah itu, Unggul dan tiga
anggota lainnya harus berjalan kaki selama tiga jam, dan beristirahat
di belantara itu di kegelapan malam.

Di tengah ancaman diterkam harimau dan dipagut ular, Unggul
lulusan terbaik Akabri Kepolisian 1988 dan peraih Adhi Makayasa dari
Presiden Soeharto ini, melanjutkan perjalanan ke tempat saudara Hon.

Mereka berpencar, Unggul dan Simamora ke Desa Kampung Mulya,
sedangkan Drajad dan Nasution ke Desa Sipadan Jaya. Kedua desa itu
letaknya terpencil, hutannya lebat dan jalannya setapak. Selama dua
jam, polisi berjalan kaki menuju Desa Kampung Mulya. Persediaan air
minum terbatas, mereka terpaksa minum air sungai.

Perjalanan dilanjutkan dengan boat dengan kecepatan 30 km/jam,
dan ditempuh 3 jam. Unggul dan rekannya tiba di kilang kayu pada 11
Agustus pukul 11.00 siang. Kedua polisi ini berpura-pura hendak
bekerja di kilang kayu dan mereka langsung diterima. Baru satu jam
menyamar, Unggul melihat ada pria mirip RS. Menurut pekerja di sana,
RS jadi pengawas. Unggul terus mengamati ciri-ciri RS, antara lain
lengan kiri dan dahi kirinya masih luka.

Setelah berkenalan, Unggul ditawari rokok dan mereka bercakap-cakap. Unggul bahkan ditawari RS untuk ikut main sepak bola menjelang peringatan 17 Agustus. Setelah ngobrol setengah jam, Unggul menemui kepala kantor dan
membuka penyamarannya. Lalu Unggul mendatangi Hon yang duduk di
teras, tapi kali ini sembari menunjukkan foto RS dan istrinya. Saat
itu RS kaget, tak bicara lagi dan keringat dingin mengucur
deras.

“Kamu RS ?” tanya Unggul, dijawab “Ya” dengan lemah. “Saya
petugas dari Jakarta,” kata Unggul sambil memperlihatkan surat
perintah penangkapan. RS pun pasrah. Ia tak menyangka di tempat
sunyi, terpencil, jauh dari keramaian, penyamarannya bisa terbongkar.

Hari itu juga Hon dibawa dengan boat, naik ojek, dan menumpang
mobil perkebunan. Suasana gelap gulita. Mereka tiba di Polsek
setempat pukul 21.00, dan satu jam kemudian tiba di Polres Labuhan
Batu. RS diperiksa hingga pukul 05.00 subuh, Jumat (12/8).

Pagi itu RS dibawa ke Medan dan Jumat sore tiba di Jakarta. Berakhirlah
perburuan sopir metromini maut selama hampir 6 bulan. Suatu prestasi
polisi yang penuh perjuangan dan kerja keras tanpa henti. (Robert
Adhi Ksp)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s